5 Lagu KPop yang Kritik Objektifikasi Perempuan, Berbahaya!

Objektifikasi Perempuan dan Pesan dalam Lagu KPop

Objektifikasi perempuan terjadi ketika perempuan diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai individu yang memiliki pikiran, perasaan, dan keinginan sendiri. Situasi ini sangat merugikan perempuan dan perlu dianggap sebagai isu serius. Terutama pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret, penting untuk menyadari bahwa perempuan layak diperlakukan dengan rasa hormat dan penghargaan.

Banyak lagu KPop juga telah menyampaikan kritik terhadap objektifikasi perempuan melalui liriknya. Lagu-lagu ini mengajak para perempuan untuk tidak menilai diri mereka berdasarkan pandangan orang lain yang sering kali mengobjektifikasi mereka. Berikut adalah beberapa contoh lagu KPop yang membahas isu ini:

  1. “No” – CLC



    Lagu “No” dari CLC menyoroti tuntutan masyarakat terhadap penampilan fisik perempuan. Banyak perempuan dianggap tidak menarik jika tidak memenuhi standar kecantikan yang ditetapkan. Bahkan, mereka bisa mendapat kritik jika bergaya sembarangan. Lagu ini mengajak perempuan untuk tetap menjadi diri sendiri. Meskipun banyak orang mengharapkan kita untuk terlihat seksi atau imut, kita tidak wajib memenuhi ekspektasi tersebut. Label seperti polos, seksi, atau imut juga bisa menjadi bentuk objektifikasi karena hanya melihat perempuan sebagai citra, bukan individu. Perempuan seharusnya dinilai dari karakternya, bukan penampilannya.

  2. “Tally” – BLACKPINK



    “Tally” dari BLACKPINK mengungkap bagaimana perempuan sering kali diminta untuk hidup sesuai standar moral orang lain. Perempuan yang dianggap terlalu bebas akan langsung dihakimi oleh banyak orang, padahal standar yang sama tidak diterapkan pada laki-laki. Lagu ini mengingatkan bahwa tubuh perempuan adalah milik mereka sendiri. Orang lain tidak boleh memaksa perempuan untuk berubah demi memenuhi standar yang mengikat. Selama perempuan tidak menyakiti orang lain, mereka bebas menjalani hidup sesuai keinginan sendiri. Selain itu, perempuan tidak pantas menerima slut-shaming hanya karena bertingkah bebas seperti laki-laki.

  3. “Nxde” – i-dle



    “Nxde” dari i-dle menggunakan referensi dari Marilyn Monroe, yang dipuja namun juga direduksi menjadi simbol seks. Liriknya menyatakan bahwa perempuan sering diragukan kecerdasannya dan dianggap bodoh hanya karena daya tarik fisik mereka. Lagu ini juga menyindir orang-orang yang hanya tertarik pada tubuh perempuan dan menganggap mereka sebagai produk yang dilihat. Bahkan, perempuan yang tampil tanpa busana di film sering dianggap sebagai objek seks alih-alih cara mengekspresikan nilai artistik. Lirik lagu ini juga mengkritik masyarakat yang mudah terpicu oleh kata “nude” (telanjang) dan menganggapnya vulgar. Padahal, setiap manusia lahir dalam keadaan telanjang secara alami. Lagu ini mengajak kita untuk mengubah cara berpikir dengan melihat perempuan sebagai manusia utuh, bukan objek visual.

  4. “Tomboy” – i-dle



    “Tomboy” dari i-dle menyuarakan perempuan yang dipaksa mengikuti standar feminin seperti boneka Barbie untuk menyenangkan laki-laki. Seolah-olah, mereka hanya objek, alih-alih manusia utuh. Bahkan, pasangan cenderung bersikap sinis saat melihat perempuan yang tidak mengikuti preferensinya. Lagu ini mengajak perempuan untuk bebas bersikap sesuka hati tanpa perlu mengikuti label gender yang membatasi. Mereka bebas menari, bergaul dengan teman, bahkan merokok tanpa mendengarkan penghakiman orang lain. Perempuan juga tidak harus kehilangan identitas diri demi hal yang disebut cinta.

  5. “I ≠ DOLL” – Yunjin LE SSERAFIM



    “I ≠ DOLL” dari Yunjin menyindir publik yang sering kali merasa berhak memperlakukan artis perempuan selayaknya produk visual. Berat badan mereka kerap dihakimi, dan ada tuduhan bahwa idol hanya mencari uang dari visualnya. Lagu ini mengingatkan bahwa idol perempuan bukanlah boneka yang keberadaannya hanya untuk dilihat dan dinilai. Mereka juga manusia yang punya suara dan perasaan, bukan hanya objek untuk menyenangkan orang lain. Idol juga bukan konten yang membuat publik merasa berhak untuk mengomentari dan menghakimi mereka.

Sejatinya, perempuan memiliki kemampuan, kecerdasan, dan kontribusi di berbagai bidang yang patut diapresiasi. Sayangnya, hal itu sering dianggap kurang penting karena objektifikasi. Hal itulah yang disoroti dalam lagu KPop di atas.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *