Dampak Konflik Israel-AS-Iran terhadap Ekonomi Indonesia
Konflik geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran berpotensi memicu lonjakan harga barang impor di Indonesia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak hanya mengancam stabilitas ekonomi dunia tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan internasional, termasuk Indonesia. Akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, menilai bahwa konflik ini bisa mengganggu jalur distribusi global, terutama jalur laut yang menjadi penghubung utama perdagangan.
Jalur Distribusi Global Terancam
Menurut Harif, konflik yang melibatkan serangan balasan dan ancaman penutupan jalur strategis dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Khususnya, jalur distribusi minyak dunia yang melalui Selat Hormuz sangat rentan terganggu. Jika situasi ini terus berlanjut, maka biaya logistik akan meningkat dan keterlambatan pengiriman barang bisa terjadi.
Ia menjelaskan, komoditas impor yang didatangkan dari luar negeri sangat mungkin mengalami kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok. Hal ini bisa menyebabkan peralihan jalur distribusi barang untuk menghindari risiko dampak perang. Namun, jika suplai menurun sementara permintaan tetap tinggi, harga dipastikan naik dan berdampak hingga ke tingkat lokal.
Dampak pada Sektor Riil dan Pasar Keuangan
Tidak hanya sektor riil, pasar keuangan juga dinilai rentan terdampak. Harif memprediksi bursa saham berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen negatif global. Dampak dari perang geopolitik ini bisa membuat bursa saham anjlok, terjadi pelemahan di trading, dan penurunan di sektor perekonomian. Salah satu indikator perekonomian adalah bursa saham, jadi indeks di bursa efek bisa berpengaruh dan terjadi penurunan.
Jika indeks saham turun, investor berisiko mengalami kerugian karena nilai portofolio yang dipegang menyusut. Kondisi tersebut mencerminkan perlambatan ekonomi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga dinilai sensitif terhadap gejolak geopolitik. Ketidakpastian global kerap mendorong investor menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset yang lebih aman.
Pelemahan Rupiah dan Harga Barang Impor
Pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada barang impor yang dibayar menggunakan dolar Amerika Serikat, termasuk produk teknologi yang selama ini banyak digunakan di dalam negeri. Harif menambahkan, barang-barang impor yang dibayar dengan dolar tentu akan terdampak, seperti produk teknologi yang penggunaannya cukup besar di Indonesia.
Di sisi lain, kondisi ketidakpastian global biasanya mendorong investor mengalihkan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti logam mulia. Dengan nilai investasi atau saham yang turun, investor bisa saja beralih ke komoditi yang lebih berpotensi lebih baik, seperti logam mulia. Saat ini kita lihat logam mulia menjadi investasi yang aman dan menjanjikan, terbukti tingkat keuntungannya terus naik dalam satu tahun terakhir.
Perkiraan Harga Logam Mulia
Harif memperkirakan harga emas dan logam mulia lainnya berpotensi terus meningkat seiring meningkatnya permintaan sebagai safe haven asset. Bisa saja harga logam mulia seperti emas akan terus naik, sehingga orientasi masyarakat beralih ke investasi tersebut.
Meski demikian, Harif berharap konflik tidak berkepanjangan agar dampak terhadap perekonomian global maupun nasional dapat diminimalisasi. Dengan situasi ekonomi nasional yang masih dalam fase pemulihan dan mengejar target pertumbuhan, setiap gangguan eksternal bisa memberikan tekanan tambahan.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












