JAKARTA – Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) terus menunjukkan penurunan sepanjang tahun 2026. Tekanan yang datang dari berbagai sumber, seperti serangan bertubi-tubi dari penyedia indeks global MSCI dan konflik geopolitik antara AS dan Iran, telah memicu keluarnya investor asing dari pasar modal Tanah Air.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham RI cukup signifikan sejak MSCI Inc. mengumumkan pembekuan proses rebalancing indeks terhadap saham Indonesia pada Rabu (28/2/2026). Akibatnya, IHSG yang awalnya mencatatkan net buy senilai Rp1,06 triliun pada awal tahun, kini justru ditinggalkan investor asing dan menutup Januari dengan angka net sell senilai Rp9,87 triliun.
Masalah ini belum selesai. Pasar modal Tanah Air kini dihadapkan pada tantangan geopolitik yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah. Sejak akhir pekan lalu, pasar mulai was-was. Hal itu terlihat dari jumlah net sell asing yang kembali meningkat ke level Rp9,51 triliun pada Jumat (27/2/2026), setelah sebelumnya hanya mencatatkan net sell senilai Rp8,81 triliun pada Kamis (26/2/2026).
Akibatnya, pada perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026), IHSG sempat terkoreksi lebih dari 2%. Saham-saham blue chip yang diukur melalui indeks LQ45 menunjukkan koreksi sebesar 2,34% per pukul 15.20 WIB. Hanya sejumlah saham yang berkaitan dengan logam mulia dan migas yang mampu menguat hari ini.
”Dana global cenderung beralih ke aset defensif, seperti dolar, obligasi negara maju, atau emas, sehingga pasar
emerging
termasuk Indonesia menghadapi volatilitas arus dana,” ujar Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, Senin (2/3/2026).
Eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran dinilai sebagai
external shock
bagi investor, yang turut meningkatkan
risk premium
global dan mendorong aksi
risk-off
investor global secara jangka pendek. Dengan kata lain, investor global cenderung mengurangi risiko saat volatilitas meningkat.
Liza menilai bahwa net sell asing sebesar Rp9,51 triliun di pasar saham pada perdagangan pekan lalu menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap
risk-off
tambahan yang berpotensi terjadi di kemudian hari.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah memaksa investor global untuk segera mengamankan investasi mereka dari negara
emerging market
menuju aset minim risiko. Hal itu tampak dari harga emas spot yang naik 2,49% ke posisi US$5.410 per troy ounce hari ini.
“Eskalasi konflik Timur Tengah memicu sentimen
risk-off
global, memaksa investor mempercepat
capital flight
dari
emerging markets
menuju aset safe haven. Dampaknya signifikan jangka pendek, menekan IHSG dan melemahkan rupiah,” katanya.
Wafi memprediksi hingga paruh pertama 2026, IHSG akan cenderung bergerak sideways lantaran sentimen MSCI dan ketegangan geopolitik yang belum menemukan titik terang. KISI meramal dana asing baru akan masuk secara bertahap pada paruh kedua 2026, jika tensi perang mereda dan The Fed memangkas suku bunga.
Peluang Pulihnya Pasar Saham
Senior Vice President Head of Retail & Product Development Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan menilai bahwa tekanan yang terjadi terhadap IHSG belakangan lebih tepat dikatakan sebagai rotasi likuiditas, alih-alih menyebutnya sebagai pelemahan fundamental pasar saham Tanah Air.
Terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah, misalnya, Reza menilai bahwa eskalasi konflik tersebut telah mendorong harga minyak dan penguatan dolar AS yang secara historis memicu aksi
risk-off
dari investor di
emerging markets
.
”Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berimplikasi pada risiko pelebaran defisit fiskal dan tekanan terhadap rupiah. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung menurunkan eksposur secara taktis, terutama pada pasar dengan sensitivitas terhadap energi dan nilai tukar,” katanya.
Sementara itu, terhadap faktor MSCI Inc., Reza menilai arus keluar dana asing lebih bersifat teknikal dan terkait mandat indeks, tanpa perubahan fundamental di pasar. Menurutnya, hal ini lebih mencerminkan disiplin manajemen risiko investor global terhadap prospek pasar saham Tanah Air yang mendapatkan penilaian oleh sejumlah lembaga keuangan global.
Menurutnya, dari sisi fundamental domestik, kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Stabilitas sektor perbankan, permodalan yang kuat, hingga profitabilitas yang resilien dinilai telah menjadi pendorong fundamental ekonomi Tanah Air.
”Selama konflik tidak berkembang menjadi gangguan pasokan energi global yang signifikan, tekanan ini cenderung bersifat siklikal. Valuasi pasar yang semakin kompetitif justru berpotensi menjadi daya tarik ketika sentimen global mulai stabil,” katanya.
Rekomendasi Investasi
Dihubungi terpisah, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai bahwa kondisi lesunya pasar tanpa arus dana asing belum tentu terjadi sepanjang paruh pertama 2026. Kendati inflow asing cenderung terbatas, tetapi sejumlah katalis dinilai mampu mendorong kembalinya dana asing tersebut.
Beberapa sentimen yang berpotensi kembali menarik dana asing antara lain meredanya konflik di Timur Tengah, ekspektasi pelonggaran moneter oleh bank sentral AS, hingga posisi valuasi saham Indonesia yang semakin menarik selepas koreksi dalam.
Namun, sentimen tersebut berada pada asumsi konflik yang tidak meluas sehingga berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz yang pada gilirannya mendorong lonjakan ekstrem terhadap harga minyak. Selama stabilisasi konflik dapat dijaga, tekanan terhadap pasar saham secara umum bersifat temporer.
”Biasanya, setelah fase
risk-off
mereda, emerging market dengan valuasi murah justru menjadi tujuan rotasi dana berikutnya dan Indonesia termasuk kandidat tersebut,” katanya.
Menurutnya, tekanan akibat ketegangan geopolitik biasanya hanya akan berlangsung selama 1—2 minggu hingga sentimen mereda. Alrich menyebut bahwa faktor konflik geopolitik tidak menekan pasar saham secara jangka panjang.
Dalam kondisi ini, Alrich merekomendasikan investor untuk mengedepankan pendekatan yang selektif dan defensif. Namun, tidak keluar sepenuhnya dari pasar saham.
Beberapa saham defensif yang direkomendasikan antara lain PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN). Selain itu, dia juga merekomendasikan saham-saham energi, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA), PT Elnusa Tbk. (ELSA), dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA).
”Investor juga dapat meningkatkan porsi kas untuk menjaga fleksibilitas sambil menunggu stabilisasi pasar, sekaligus memanfaatkan koreksi berbagai peluang akumulasi bertahap,” katanya.
Sementara itu, KISI menyarankan investor untuk memasang strategi defensif, dengan mengalihkan bobot portofolio ke instrumen rendah risiko, seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), SBN, SRBI, atau emas.
Beberapa saham yang masuk sebagai rekomendasi KISI antara lain MEDC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan ESSA.












