Vina Cirebon Terjebak Modus Pengantin Pesanan di China

Pengakuan Vina: Dari Pernikahan yang Dianggap Biasa Hingga Terjebak di China

Vina, seorang perempuan asal Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, mengaku telah mengetahui dan menyetujui ajakan menikah dengan pria asal Tiongkok sejak awal. Ia tidak curiga karena pengenalan tersebut terjadi melalui teman atasannya di lingkungan kerja di PIK yang mayoritas dihuni oleh warga negara asing (WNA) Tiongkok.

Menurut Vina, ia tidak mengetahui adanya dugaan jaringan agen atau sindikat nikah pesanan. Ia baru menyadari situasi berbeda setelah tiba di Tiongkok dan merasa terjebak saat mencoba membatalkan pernikahan.

Tak Curiga Karena Lingkungan Kerja

Vina menjelaskan alasan ia tak menaruh curiga sedikit pun karena sosok yang mengenalkannya dengan calon suami merupakan teman dari atasannya di tempat kerja. “Karena yang mengenalkan adalah teman bos Vina di tempat kerja. Vina bekerja di PIK kak, di ruko-ruko PIK itu. Bos Vina juga WNA China sangat baik, jadi sekeliling Vina ya memang banyaknya orang China makanya gak ada rasa curiga,” ujarnya.

Lingkungan kerja yang setiap hari berinteraksi dengan warga negara asing membuatnya merasa situasi tersebut hal yang biasa. Bahkan, menurut Vina, atasannya sempat berniat membantu dirinya keluar dari situasi di Tiongkok. “Bos Vina berniat membantu Vina pergi dari sini tapi posisi dia di Indo jadi dia meminta pertolongan saudaranya. Tapi saudaranya yang disini bisa bantu Vina pergi ke KBRI kalo Vina bisa keluar sendiri dari rumah ini, karna kalo sampe ketahuan dia bawa Vina pergi itu kasus baru lagi kalo disini,” katanya.

Vina juga memastikan tidak pernah ada kontrak atau perjanjian resmi sebelum keberangkatannya ke Tiongkok. “Gak ada perjanjian atau kontrak karna Vina pure gak tahu menau. Pembahasan soal mahar yang bakal dikasih juga baru H-2,” ujarnya.

Kronologi dari Keluarga: Empat Kali Datang ke Gombang

Sementara itu, pihak keluarga melalui kuasa hukumnya, Asep Maulana Hasanudin dari YLBHI Garuda Sakti, memaparkan kronologi kedatangan rombongan warga negara asing ke rumah Vina di Desa Gombang. Menurut Asep, rombongan tersebut datang hingga empat kali sebelum akhirnya Vina diberangkatkan ke Tiongkok.

“Jadi kasus Saudari Vina ini awalnya itu Vina bekerja di Jakarta, di salah satu tempat di PIK (Pantai Indah Kapuk). Kemudian, Vina itu diam-diam difoto oleh orang Tiongkok,” ujar Asep saat ditemui di Gombang, Jumat (27/2/2026).

Dari situ, komunikasi disebut mulai terjalin. “Lama-kelamaan Vina didekati dan ditawarkan, ‘Apakah kamu mau punya pacar orang Tiongkok?’ Awalnya ditawari sebagai pacar,” ucapnya.

Asep menyebut beberapa nama yang datang ke Gombang, antara lain Liu Guanggun, Zhang Haibi, Wang Jun, serta didampingi seorang WNI bernama Nisa Herman Susi. “Kedatangan mereka yang keempat ini tujuannya untuk memberikan mahar,” ujarnya.

Tak lama setelah itu, tepatnya 7 Agustus 2025, Vina diberangkatkan ke Tiongkok. Namun setibanya di sana, keluarga menyebut Vina baru menyadari kondisi calon suaminya. “Sudah di Tiongkok. Dia baru sadar ternyata Wang Jun ini berperilaku aneh; sering bergerak-gerak sendiri dan bicara sendiri,” kata Asep.

Ketika Vina ingin kembali ke Indonesia, pihak keluarga pria disebut meminta pengembalian mahar hingga empat kali lipat. “Kalau kamu mau kembali ke Indonesia, kamu harus mengembalikan uang mahar empat kali lipat,” ujar Asep menirukan ucapan yang diterima Vina.

Viral Minta Tolong Gubernur Jabar

Kasus ini sebelumnya mencuat setelah video Vina beredar di media sosial. Dalam video tersebut, ia menangis dan meminta pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. “Yang terhormat Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Dedi Mulyadi. Perkenalkan, nama saya Fitna, saya dari Cirebon. Saya sedang berada di China saat ini,” ucapnya dalam video.

Ia juga mengaku dokumen penting seperti paspor ditahan dan dirinya mengalami kekerasan fisik. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) maupun aparat penegak hukum terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.


Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *