Kebijakan Tarif Impor Global yang Dianggap Tidak Legal oleh Mahkamah Agung AS
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tidak menggubris putusan Mahkamah Agung (MA) AS yang menyatakan bahwa kebijakan tarif impor global ilegal. Meskipun MA memutuskan bahwa kesepakatan tarif antara AS dan sejumlah negara dinyatakan tidak sah, Trump justru memilih untuk tetap mempertahankan kebijakannya, hanya saja persentase tarifnya berubah dari 10 persen menjadi 15 persen.
Putusan MA tersebut diumumkan pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat. Sebelumnya, Trump telah menetapkan tarif impor sebesar 10 persen setelah putusan tersebut. Namun, pada Sabtu (21/2/2026), ia mengumumkan perubahan tarif menjadi 15 persen melalui media sosial miliknya, Truth Social.
Kenaikan tarif ini disebut sebagai batas maksimum yang diizinkan berdasarkan undang-undang perdagangan yang belum pernah digunakan sebelumnya. Undang-undang tersebut memungkinkan tarif baru tetap berlaku selama sekitar lima bulan sebelum pemerintah harus meminta persetujuan Kongres. Rencana tarif 10 persen sebelumnya akan mulai berlaku pada Selasa (24/2/2026). Namun, Trump belum menjelaskan apakah kenaikan tarif menjadi 15 persen juga akan berlaku pada hari yang sama.
Trump mengungkapkan keputusan tarif 15 persen setelah menilai putusan MA sebagai “konyol dan anti-AS”. Ia juga menyebut beberapa anggota hakim MA sebagai “orang bodoh”. Dalam putusannya, MA menyatakan bahwa Trump telah melampaui wewenangnya sebagai Presiden dengan mematok tarif global secara luas menggunakan aturan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).
AS telah mengumpulkan setidaknya 130 miliar dolar AS dalam bentuk tarif menggunakan aturan IEEPA. Kebijakan mendadak Trump ini membingungkan sejumlah negara seperti Inggris dan Australia yang sudah menyepakati tarif 10 persen dengan AS.
Kepala Kebijakan Kamar Dagang Inggris, William Bain, mengungkapkan kekhawatirannya atas bisnis di Inggris buntut pernyataan Trump yang menghina MA. Ia juga khawatir kebijakan tarif 15 persen akan berdampak negatif terhadap bisnis di AS. “Tarif impor baru sebesar 15 persen buruk bagi perdagangan, buruk bagi konsumen, dan bisnis AS. Lalu juga akan melemahkan pertumbuhan ekonomi global,” ujarnya.
Kebingungan juga dirasakan Uni Eropa buntut kebijakan tersebut. Alhasil, Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa meminta penundaan ratifikasi perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan AS. Komite dijadwalkan bakal melakukan voting mengenai perjanjian tersebut pada Selasa waktu setempat.
Pro Kontra Tarif Global Trump di AS
Di sisi lain, terjadi pro kontra di kalangan pengusaha AS terkait tarif global yang digagas Trump. Mengutip The Guardian, maksud dari Trump melakukan penetapan tarif ini demi mengurangi defisit perdagangan. Adapun pada tahun 2024, defisit perdagangan di Negeri Paman Sam mencapai 1,2 triliun dolar AS.
Salah satu pengusaha yang pro atas kebijakan Trump ini yakni pemilik pabrik pengolahan baja di Baltimore, Drew Greenblatt. Dia justru mengaku kecewa atas putusan MA yang membatalkan kebijakan tarif dari Trump. “Ini adalah kemunduran bagi orang miskin di Amerika yang memiliki kesempatan untuk naik ke kelas menengah dengan pekerjaan manufaktur yang bagus,” katanya.
Namun, seorang petani kedelai sekaligus pendiri Asosiasi Petani Kulit Hitam AS, John Boyd mengaku setuju dengan putusan MA tersebut. “Ini adalah kemenangan besar bagi saya dan kerugian besar bagi presiden. Bagaimana pun Anda melihatnya, Presiden Trump kalah dalam hal ini,” katanya.
Mantan penasihat perdagangan pemerintah Inggris sekaligus Direktur SEC Newgate, Allie Renison, juga tidak mendukung kebijakan tarif Trump. Pasalnya ada kenaikan bea impor bagi sebagian besar barang yang akan masuk ke AS sebesar 15 persen. Dia juga mengakui bahwa pendekatan ekonomi di bawah kepemimpinan Trump begitu buruk. “Meskipun mungkin terlihat seperti hari yang baik untuk perdagangan bebas, saya pikir perdagangan sebenarnya menjadi jauh lebih rumit,” katanya.
Perkembangan di Indonesia
Sebelumnya, Prabowo sudah sempat buka suara ketika Trump memutuskan tarif impor global terbaru sebesar 10 persen. Adapun Indonesia baru saja berhasil menyepakati penurunan tarif resiprokal menjadi 19 persen dari 32 persen pasca putusan MA AS.
Terkait keputusan Trump, Prabowo mengatakan pemerintah akan memantau perkembangan kebijakan di AS ke depannya. Dia juga mengungkapkan siap untuk menghadapi apapun kemungkinan yang terjadi pasca keputusan Trump tersebut. “Ya kita siap untuk menghadapi semua kemungkinan. Kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat, ya kita lihat perkembangannya,” ujar Prabowo.
Prabowo menilai kebijakan tarif baru yang dipatok Trump sebesar 10 persen lebih menguntungkan buat Indonesia. Jumlahnya memang jauh lebih rendah daripada hasil kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan AS sebesar 19 persen. “Saya kira ya menguntungkan lah. Kita siap untuk menghadapi segala kemungkinan,” kata Prabowo.
Sementara, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku terkejut atas penetapan tarif impor global AS sebesar 10 persen. Dia mengatakan pemerintah tidak mengetahui bahwa Trump akan memutuskan kebijakan tersebut. “Ternyata ada yang lebih terkejut lagi. Jadi ini lebih terkejut daripada kejutan,” katanya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












