Pemantauan Sosial di Wilayah Panakkukang Makassar
Pemerintah Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, telah memperkuat kegiatan patroli untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang sering muncul di wilayah tersebut. Fokus utama dari patroli ini adalah penanganan anak jalanan (anjal), gelandangan dan pengemis (gepeng), serta peredaran minuman keras (miras) dan balapan liar. Kegiatan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari rapat koordinasi terkait cipta kondisi ketentraman dan ketertiban umum kota Makassar.
Camat Panakkukang, Syahril, menyampaikan bahwa penertiban wilayah menjadi salah satu prioritas utama. Ia menekankan bahwa masalah anjal dan gepeng sering kali meningkat signifikan pada bulan Ramadan, seiring dengan peningkatan aktivitas masyarakat pada sore hingga malam hari. Hal ini membuat wilayah Panakkukang menjadi salah satu area yang paling rentan terhadap fenomena ini.
Kawasan-kawasan seperti Jl Hertasning, lampu merah Jl Boulevard–AP Pettarani, dan Mal Panakkukang menjadi fokus pengawasan karena kerap dijadikan tempat mangkal oleh anak jalanan, pengemis, dan gelandangan. Patroli ini tidak hanya bertujuan untuk menertibkan, tetapi juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak menjual miras, terutama selama Ramadan.
Kerja Sama Antar Instansi
Patroli ini melibatkan aparat kecamatan bersama unsur-unsur terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja. Menurut Syahril, patroli telah dimulai sejak beberapa hari lalu dan akan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Pemetaan titik rawan pun telah dilakukan, termasuk di kawasan Jl Hertasning dan Mal Panakkukang.
Untuk menjaga konsistensi pengawasan, monitoring dilakukan setiap hari. Aparat kecamatan bekerja sama dengan Polsek, Danramil, serta organisasi masyarakat bawah naungan kepolisian dan TNI. Termasuk dalam kerja sama ini adalah forum kemitraan polisi dan masyarakat. Setiap hari, jadwal patroli telah disusun bersama unsur kepolisian, TNI, dan elemen masyarakat.
Jika dalam patroli ditemukan anjal atau gepeng, langkah selanjutnya adalah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Kota Makassar. Mereka kemudian akan dijemput untuk dilakukan pendampingan dan pembinaan sesuai prosedur yang berlaku.
Pendekatan Humanis dan Persuasif
Menurut Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie, peningkatan aktivitas sosial dan keagamaan selama Ramadan sering kali diiringi dengan meningkatnya jumlah anjal dan gepeng. Ia menekankan pentingnya antisipasi sejak awal untuk mencegah munculnya persoalan sosial yang lebih luas. Selain itu, keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah juga harus dipertahankan.
Dinas Sosial melakukan penjangkauan rutin secara humanis dan persuasif. Petugas tidak hanya menertibkan, tetapi juga melakukan pendataan dan pendekatan sosial untuk mengetahui latar belakang para anjal dan gepeng, termasuk asal daerah dan kondisi keluarganya. Selain itu, Dinas Sosial juga berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja dalam pengawasan lapangan.
Imbauan Kepada Masyarakat
Masyarakat diimbau agar tidak memberikan uang secara langsung kepada pengemis di jalan. Praktik ini dinilai justru memperpanjang rantai persoalan sosial, terutama eksploitasi anak. Meskipun demikian, masih ada masyarakat yang memberikan uang dengan alasan kasihan atau ingin berbagi berkah. Namun, cara ini tidak menyelesaikan masalah.
Berdasarkan hasil pemantauan dan laporan lembaga swadaya masyarakat, sebagian anjal dan gepeng yang beroperasi di Makassar diketahui berasal dari luar daerah dan datang secara musiman, khususnya saat Ramadan. Mereka disebut berasal dari wilayah penyangga seperti Jeneponto dan Bone. Bahkan, ditemukan indikasi bahwa kelompok tersebut terorganisir. Mereka disiapkan tempat tinggal sementara di wilayah kecamatan tertentu, lalu diarahkan untuk beroperasi pada jam-jam tertentu, mulai sore hingga malam hari, ketika aktivitas masyarakat meningkat.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












