Peran Suster Ika dalam Penyelamatan Korban TPPO
Sejumlah perempuan asal Jawa Barat menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Mereka diperbudak dan dipaksa bekerja tanpa perlindungan yang layak. Sebagian dari mereka masih berusia remaja dan telah bekerja sejak usia 15 tahun.
Beberapa dari korban direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi dan fasilitas lengkap. Namun, kenyataannya jauh dari harapan. Mereka dipaksa bekerja di luar kesepakatan kontrak, hanya diberi makan sekali sehari, serta dilarang keluar dari area pub tempat hiburan.

Kondisi mencekam ini akhirnya terungkap pada 20 Januari 2026 ketika para korban meminta bantuan kepada Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F). TRUK-F, lembaga yang fokus pada perlindungan korban kekerasan, kemudian melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Dalam proses ini, Suster Ika hadir sebagai pendamping para perempuan tersebut.
Suster Ika tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan perlindungan dan akses bantuan hukum. Perannya menjadi simbol bahwa kepedulian dan keberanian dapat membuka jalan keselamatan bagi korban eksploitasi.
Sosok Suster Ika
Suster Ika, yang menjembatani penanganan kasus dugaan TPPO 13 perempuan asal Jawa Barat di NTT dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merupakan sosok penting dalam penyelamatan korban. Dedi Mulyadi menyebutkan bahwa ada 13 perempuan asal Jawa Barat dan satu orang asal Jakarta yang diselamatkan oleh Suster Ika di Sikka, NTT.
Melalui Suster Ika, Dedi Mulyadi meminta bantuan agar Polres Sikka segera menetapkan status tersangka dan menahan terduga pelaku. Gubernur Jabar itu juga menyatakan sudah berkoordinasi dengan Polda Jawa Barat untuk menghubungi Polda NTT demi memastikan langkah hukum yang cepat dan tepat.
Selain itu, Dedi Mulyadi mengaku sudah berkoordinasi dengan Suster Ika terkait pemulangan para korban ke rumahnya masing-masing di Jawa Barat. “Dalam minggu ini, kami akan segera mengembalikan para korban ke rumah asalnya masing-masing,” ujarnya.
Profil Suster Ika
Suster Ika memiliki nama lengkap Suster Fransiska Imakulata, SSpS, namun akrab disapa Suster Ika. Menjadi penyelamat 13 perempuan asal Jawa Barat ternyata, Suster Ika merupakan Ketua Tim Relawan Kemanusiaan untuk Flores (TRUK-F).
TRUK-F adalah lembaga advokasi Gereja Katolik yang konsen pada isu kemanusian berbasis di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Mereka lah yang mengamankan para korban TPPO asal Jawa Barat ini dari Eltras Pub, tempat hiburan malam milik Andi Wonasoba.
Menjadi Ketua Tim Relawan Kemanusiaan, Suster Ika memiliki latar pendidikan memadai di bidang hukum. Diketahui, Suster Fransiska Imakulata merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya. Pada tahun 2022, ia juga pernah bergabung dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI) untuk memperkuat pendampingan hukum bagi korban, sering kali mendampingi kasus di ruang pengadilan.
Sejak terjun di dunia hukum, Suster Ika mendedikasikan dirinya berkiprah di kemanusiaan. Ia aktif menangani kasus kekerasan seksual, perdagangan manusia (TPPO), dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Suster Ika juga dikenal vokal melawan budaya atau adat yang sering mengabaikan martabat korban kekerasan seksual.
Bersama timnya di TRUK-F, ia menyediakan layanan pendampingan yang siap membantu korban tanpa memungut biaya. Selain aktif di tim advokasi, Suster Ika adalah seorang Biarawati, suster misionaris dari Kongregasi SSpS.
Suster Ika juga memiliki rekam jejak pernah menjadi pendamping kasus perdagangan 17 anak di Sikka tahun 2021 lalu yang diadvokasinya oleh Mabes Polri dan Komisi III DPR RI. Pada tahun yang sama 2021, Suster Ika juga membeberkan temuan ke publik timnya mencatat ada 101 korban kekerasan perempuan dan anak, terdiri dari 68 korban anak dan 33 korban perempuan dewasa.
Suster Ika juga menguak kasus 127 korban kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 2024 di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











