Berkembang dengan Pesat

Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen: Tanda Tanya di Balik Angka

Angka 5,4 persen sering muncul dalam berbagai diskusi. Mulai dari meja kebijakan hingga layar media sosial, angka ini menjadi topik utama. Angka tersebut merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Meskipun terlihat sepele, angka ini memicu banyak tanda tanya. Pertanyaan seperti “Tumbuh untuk siapa?” sering muncul, bahkan dalam ruang yang tidak terkait langsung dengan isu ekonomi.

Pertanyaan ini muncul setelah perayaan Imlek di Bangka Belitung. Para rekan dan masyarakat turut mengajukan pertanyaan serupa. Pemerintah sendiri telah menyatakan komitmennya untuk menjadikan ekonomi kerakyatan sebagai prioritas. Istilah ini kini kembali diperkenalkan dalam berbagai program, termasuk desa, koperasi, dan pangan sebagai poros utama.

Koperasi Desa: Membawa Kesejahteraan ke Pedesaan

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi salah satu inisiatif penting. Koperasi ini menawarkan solusi sederhana, yaitu agar hasil usaha rakyat tidak lagi bergantung pada tengkulak. Pemerintah menargetkan 30.008 koperasi dari total 80.000 KDKMP sudah berdiri dan beroperasi pada 2026. Proyeksinya bukan hanya jumlah lembaga, tetapi juga penyerapan 1,6 juta tenaga kerja.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa desa harus menjadi pusat pertumbuhan. Di Bantul, misalnya, geliat ekonomi desa bisa mencapai 11–12 persen. Koperasi di sana bukan hanya sebagai pembeli, tetapi juga simpul yang menampung hasil pertanian, peternakan, perikanan, serta UMKM.

Koperasi dan Dapur Pemenuhan Gizi

Bekerja sama dengan Perum Bulog, koperasi membeli sesuai harga pembelian pemerintah. Negara masuk ke pasar desa, bukan sebagai penonton, tapi sebagai penyangga. Koperasi pun tidak berdiri sendiri, ia disambungkan dengan dapur-dapur besar yang disebut SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Ini bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Puluhan ribu dapur tambahan dikebut untuk dibangun dalam setahun. Harapannya, setiap dapur yang tumbuh bisa mengelola dana miliaran rupiah per bulan. Dana itu berputar kembali. Tujuh puluh persen untuk bahan baku. Dua puluh persen untuk operasional dan gaji. Sepuluh persen untuk insentif pengelola.

Dapur mendadak menjadi penerjemahan teori ekonomi. Uang negara mengalir ke pembelian telur, ayam, beras, sayur. Peternak kecil menjual lebih pasti. Nelayan memiliki pembeli tetap. UMKM lokal mendapat kontrak.

Swasembada Pangan dan Hilirisasi Ayam Nasional

Sisi lain yang tumbuh seiring hal itu, pemerintah mencetak sawah baru. Ada juga ratusan hektar tebu tua yang dibongkar. Ada juga bawang putih yang dicetak ulang. Swasembada pangan kembali disebut. Bukan sekadar nostalgia masa lalu, tapi target administratif.

Hal lain kemudian juga digarap berbarengan, yakni proyek hilirisasi ayam nasional. Peternakan bakal terintegrasi. Mulai dari Malang, menyusul Bone, Gorontalo Utara, Paser, Sumbawa, Lampung Selatan. Targetnya 1,5 juta ton tambahan daging ayam dan satu juta ton telur per tahun. Lapangan kerja baru diproyeksikan 1,46 juta. Pendapatan bruto peternak bisa naik Rp 81,5 triliun per tahun.

Pertumbuhan yang Menjanjikan

Dari itu semua, hitung-hitungan di atas kertas mulai ditata ulang. Hasilnya, transformasi menjanjikan kesejahteraan. Tengok ke belakang, statistik pun berbicara lantang. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,33 persen pada 2025 atau melonjak dari 0,68 persen setahun sebelumnya. Produksi beras naik 13,29 persen menjadi 34,69 juta ton. Jagung meningkat 6,74 persen menjadi 16,16 juta ton. Sektor ini menyumbang 13,1 persen terhadap PDB.

Rancangan besar itu bukan lagi tradisional. Jaringan produksi kakap yang terhubung ke desa terus digelorakan. Namun, kenapa diam-diam tanya itu muncul. Bagaimana tata kelola? Bagaimana korupsi dicegah? Bagaimana kualitas belanja publik dipastikan tepat sasaran? Bagaimana koperasi desa tidak sekadar papan nama? Dan sederet tanya lainnya.

Yang pasti, angka 5,4 persen akan tercatat dalam buku statistik. Atas pertanyaan yang muncul berulang adalah, apakah di antara angka itu ada rasa cukup di meja makan, ada harga yang adil di sawah, dan ada keyakinan bahwa pertumbuhan bukan lagi milik segelintir pusat dan kelompok elite, melainkan benar-benar berakar.

Sebab ekonomi, pada akhirnya, bukan hanya soal bertambah. Ia soal dibagi. Desa bukan sekadar variabel dalam model pertumbuhan. Ia adalah ruang hidup, dengan sejarah panjang ketimpangan dan harapan yang berulang.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *