Gubernur DKI Jakarta Memborong Bandeng Jumbo dalam Festival Rawa Belong
Festival Bandeng Rawa Belong yang diadakan di kawasan Jakarta Barat pada Sabtu (14/2/2026) menjadi perhatian utama masyarakat, terutama setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memborong enam ekor bandeng jumbo. Acara ini tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi para pedagang ikan di sekitar kawasan tersebut.
Bandeng Jumbo yang Dibeli Gubernur
Dalam festival tersebut, Pramono Anung memilih langsung enam ekor bandeng dengan berbagai ukuran. Salah satu dari mereka memiliki bobot mencapai 14,67 kilogram. Ia menyebutkan bahwa bandeng tersebut akan diberikan kepada Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutamainah untuk diolah menjadi hidangan spesial. “Saya minta Bu Wali yang masak, nanti dikirim saja sedikit ke saya,” ujarnya.
Pramono mengatakan bahwa ia datang ke berbagai tenda pedagang untuk memilih bandeng terbesar yang tersedia. Meski jumlahnya enam ekor, yang paling besar adalah bandeng dengan berat hampir 15 kg. Keputusan ini menunjukkan antusiasme Gubernur terhadap tradisi lokal dan dukungan terhadap UMKM.
Dampak Positif bagi Pedagang
Festival Bandeng Rawa Belong tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga memberikan peluang ekonomi yang signifikan bagi para pedagang. Salah satu dari mereka, Siti (50), mengaku merasakan lonjakan permintaan ikan bandeng menjelang Imlek. Ia telah membuka lapak di Jalan Sukabumi Utara, kawasan Rawa Belong, selama 20 tahun terakhir.
“Setiap Imlek, setiap tahun, sudah 20 tahunan kali ini,” kata Siti. Ia menjelaskan bahwa sebelum festival, para pedagang biasanya berjualan secara mandiri dengan lapak kayu. Namun, dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Jakarta mengemas tradisi ini menjadi sebuah festival yang dipadukan dengan pertunjukan kebudayaan.
Menurut Siti, konsep festival ini membuat aktivitas jual beli lebih tertata, pengunjung lebih ramai, dan pendapatan pedagang meningkat signifikan. Pada penyelenggaraan tahun lalu, ia mampu meraih omzet hingga puluhan juta rupiah hanya dalam dua hari. “Tahun kemarin, dua hari itu dapat omzet Rp 30 juta. Kalau hari ini kan baru tadi pagi, lakunya baru 12 ekor, belum dihitung omzetnya,” ungkap dia.

Pengalaman Pedagang Lain
Selain Siti, Hidayatullah (50) juga merasakan manfaat dari festival ini. Ia mengatakan bahwa omzet penjualannya pada festival tahun lalu mencapai sekitar Rp 18 juta dalam dua hari. “Kalau tahun kemarin dapat Rp 18 juta dalam waktu dua hari,” ucap Hidayatullah. Tahun ini, meski baru berjualan sejak pagi, omzetnya telah mencapai sekitar Rp 5 juta.
Hidayatullah menyebutkan bahwa pembeli bandeng tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari daerah seperti Bogor, Bekasi, dan wilayah lainnya. “Pembeli kerap berdatangan dari Bogor, Bekasi, dan sejumlah wilayah lain untuk berburu bandeng berukuran besar khas Rawa Belong,” katanya.
Tradisi yang Terus Dipelihara
Festival Bandeng Rawa Belong merupakan tradisi tahunan masyarakat Betawi menjelang perayaan Imlek. Selain menjaga warisan budaya, acara ini juga menjadi ajang pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pramono Anung menyampaikan bahwa festival ini bertujuan untuk menghidupkan kembali UMKM yang dipegang oleh para pelaku usaha lokal.
“Dalam acara tradisi Rawa Belong Bandengan ini untuk menghidupkan kembali UMKM. Seperti yang dipegang oleh Bang Foke ini, beliau ini kan legend-nya Gubernur Betawi Jakarta. Karena beliau memang berkeinginan untuk betul-betul tradisi budaya Betawi menyambut Imlek ini terus dipelihara dengan baik,” tambah Pramono.
Festival Bandeng Rawa Belong berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu (14/2/2026) hingga Senin (16/2/2026). Belasan hingga puluhan pedagang menjajarkan ikan bandeng dengan berbagai ukuran. Harga bandeng bervariasi, berkisar antara Rp 65.000 hingga Rp 80.000 per kilogram, tergantung pada pedagang dan ukuran ikan.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."












