Persebaya Future Lab: Proses Panjang Membentuk Talent Berbakat
Persebaya Future Lab (PFL) telah membuktikan bahwa pembinaan pemain muda bukanlah proses instan. Ganesha Putera, sosok yang memimpin program ini, menegaskan bahwa setiap talenta yang muncul di lapangan adalah hasil dari evaluasi berani dan komitmen jangka panjang. Proses ini mengajarkan bahwa kesuksesan tidak hanya terlihat dari penampilan hari ini, tetapi bagaimana pemain diberi ruang untuk berkembang ke depannya.
Inspirasi utama PFL berasal dari kisah legendaris Simon Kjaer di Akademi FC Midtjylland, Denmark. Meskipun awalnya dianggap sebagai pemain biasa dan bahkan tidak masuk dalam prediksi pelatih berlisensi UEFA Pro, Kjaer akhirnya menjadi bek elite Eropa. Ia masuk akademi hanya karena ada satu slot kosong di tim U-16. Empat tahun kemudian, ia dijual ke Palermo seharga 4 juta euro dan menjadi ikon sepak bola Denmark. Kisah ini menunjukkan bahwa talenta bisa berkembang secara non-linear dan tidak bisa dinilai terlalu dini.
Prinsip inilah yang menjadi fondasi PFL sejak berdiri. Klub menetapkan target ambisius, yaitu 30 persen menit bermain tim utama harus diisi oleh pemain binaan sendiri pada 2027. Untuk mencapai hal tersebut, PFL mengubah cara pandang dalam pembinaan usia muda. Bukan sekadar mengejar hasil cepat, tetapi membangun ekosistem yang memberi kesempatan adil bagi pemain muda untuk belajar dan tampil.
Musim pertama PFL menjadi fase eksplorasi dan pembelajaran. Meski Persebaya U-16 berhasil menembus final EPA 2024/2025, evaluasi internal menemukan beberapa catatan penting. Salah satunya adalah distribusi menit bermain yang belum proporsional. Hal ini menyebabkan tingginya angka early exit pemain muda dan menyempitnya kolam talenta.
Selain itu, latihan terlalu berfokus pada Rencana Permainan dibanding Prinsip Permainan Fundamental dan Prinsip Permainan per Posisi. Akibatnya, pemain tampak solid sebagai tim, tetapi belum matang sebagai individu. Chemistry kolektif sering kali menutupi kekurangan kualitas individu di pertandingan. Padahal, saat naik ke tim utama, pemain muda harus siap tampil tanpa pernah berlatih bersama sebelumnya.
Evaluasi tersebut menjadi titik balik di musim kedua. PFL sepakat mengubah kebijakan dengan memberi kesempatan berlatih dan bermain yang lebih proporsional untuk semua pemain. Rotasi skuad diterapkan secara konsisten di setiap akhir pekan, sementara jumlah pertandingan meningkat menjadi 32 laga yang dimanfaatkan sebagai ruang belajar emas.
Strategi kedua adalah memainkan pemain terbaik di level usia yang lebih tinggi. Pemain U-16 naik ke U-18 atau U-20, sementara pemain U-20 terbaik dipinjamkan ke Liga 2. Hasilnya terasa signifikan dalam aspek pembelajaran. Pemain muda dipaksa beradaptasi dengan intensitas, fisik, dan kecepatan yang lebih tinggi.
Latihan juga direformasi total dengan porsi besar pada PPF dan PPP. Hari Selasa difokuskan pada prinsip fundamental, sementara Rabu menjadi sesi intensif penguasaan peran posisi. Pendekatan ini bertujuan mengejar standar teknis tim utama. Chemistry tak lagi menjadi prioritas utama dibanding kualitas individu.
Pesan Bernardo Tavares mempertegas arah pembinaan ini. “Tugas kalian adalah mencetak pemain dengan menit main di Tim Utama, tugas memenangkan pertandingan adalah tugas kami!” ujarnya lugas. Bernardo ingin pemain muda Persebaya Surabaya lapar dan memiliki etos kerja tinggi. Kekurangan teknik boleh ada, tetapi kemauan berlari dan menekan lawan tak bisa ditawar.
Hasilnya mulai terlihat di Super League 2025/2026. Persebaya Surabaya kembali memunculkan talenta muda dari jalur internal, kali ini lewat sosok Alfan Suaib. Alfan mencuri perhatian saat menghadapi Bali United di Gianyar. Masuk sebagai pemain pengganti, dia langsung mencetak gol pada menit ke-69. Gol itu melengkapi kemenangan Persebaya Surabaya 3-1. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan proses panjang di balik layar PFL.
Alfan merupakan jebolan SSB Binter dan sempat berlaga di Liga TopSkor 2021. Dia lalu meniti jalan di Persebaya U-20 dan debut di Liga 1 musim 2023/2024. Bernardo Tavares memberi apresiasi penuh pada Alfan. “Percayalah pada impian kalian dan teruslah berjuang,” ucap dia memberi pesan ke pemain akademi.
Bernardo menegaskan konsistensi menjadi kunci agar pemain muda bertahan di level tertinggi. Dia juga mendorong PFL terus menjaga regenerasi tim. Alfan sendiri tak mampu menyembunyikan rasa syukur. “Alhamdulillah saya bisa memberikan kemenangan hari ini,” kata dia penuh emosi.
Kisah Alfan Suaib menjadi Simon Kjaer-nya Persebaya Surabaya. Bukti resep Ganesha Putera di Persebaya Future Lab mulai membuahkan hasil nyata.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












