Sinergi Lintas Sektor dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kolaborasi antara sektor industri, akademisi, dan pemerintah desa kembali menunjukkan dampak positif dalam pemberdayaan masyarakat. Kali ini, Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangguh di Kelurahan Margodadi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi pusat perhatian melalui peluncuran program peternakan ayam bebas sangkar (cage-free farm). Program ini diluncurkan pada Selasa (10/2/2026), dan menjadi bukti nyata dari sinergi yang terjalin antara berbagai pihak.
Program ini diinisiasi oleh Garrya Bianti Yogyakarta di bawah naungan Banyan Global Foundation, bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM). Tujuan utama dari program ini adalah membangun ekosistem bisnis peternakan yang berkelanjutan, memberdayakan perempuan, serta mendukung program ketahanan pangan nasional.
Peran Garrya Bianti Yogyakarta
General Manager Garrya Bianti Yogyakarta, Ridwan, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang fokus pada kemandirian jangka panjang. “Ini adalah proyek ketiga kami di wilayah ini. Grup hotel kami (Banyan Group) berpusat di Singapura dan memiliki sekitar 100 hotel di seluruh dunia. Di Jawa, Garrya Bianti Yogyakarta ini adalah hotel pertama kami,” ujar Ridwan.
Ia menekankan bahwa bantuan modal usaha berupa peternakan ayam dirancang untuk meningkatkan taraf ekonomi para perempuan yang tergabung dalam KWT. “Tujuan kami adalah memberdayakan perempuan melalui KWT untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Kami tidak memberikan uang tunai, melainkan modal usaha berupa peternakan ayam.”
Jaminan Pasar dan Dukungan Teknis
Ridwan juga memberikan jaminan pasar (off-taker) bagi produk yang dihasilkan KWT Tangguh. “Ke depannya, telur yang dihasilkan akan kami beli untuk kebutuhan hotel dengan harga pasar. Sisa telur yang tidak terserap bisa dijual oleh KWT ke pasar umum. Syarat bantuan kami adalah lokasi harus dalam radius 50 km dari hotel agar pemantauan efektif. Lokasi di Margodadi ini sangat ideal karena hanya berjarak sekitar 10 km dari hotel.”
Peran Akademisi dalam Program
Peran akademisi tidak dapat dipisahkan dari suksesnya program ini. Dr. Muhsin Al Anas, Dosen sekaligus Peneliti dari Fakultas Peternakan UGM, hadir untuk memastikan aspek teknis dan manajemen bisnis berjalan sesuai standar. “Kenapa program ini penting? Karena pemerintah sekarang menggelontorkan banyak anggaran untuk menyerap produk pertanian dan peternakan. Namun, jika tidak dikelola dengan manajemen bisnis yang baik, keuntungannya tidak akan terasa.”
Muhsin menegaskan bahwa bantuan awal ini berfungsi sebagai stimulus atau ‘pancingan’ untuk target yang lebih besar di masa depan. “Mimpi kita adalah bisnis ini tumbuh. Target awal mungkin 1.000 ekor, lalu naik ke 5.000 ekor. Bantuan awal ini adalah ‘pancingan’. Kami dari Fakultas Peternakan UGM akan memberikan pendampingan teknis dan membantu pencarian pendanaan berikutnya agar bisnis Ibu-ibu mandiri.”
Sambutan Positif dari Pemerintah Desa
Lurah Margodadi, Djalmo Susilodiprojo, menyambut hangat inisiatif ini. Ia melihat adanya keselarasan antara program cage-free farm ini dengan agenda prioritas pemerintah pusat, khususnya terkait penyediaan makanan bergizi gratis (MBG).
“Semoga bantuan ayam ini bermanfaat bagi KWT Tangguh maupun warga sekitar. Ini merupakan dukungan nyata dari hotel yang ditujukan agar kelompok ini berkembang. Kebetulan di sini ada kelompok yang sama-sama mengelola ayam; satu di sisi kanan dibantu pihak lain, dan yang ini didukung oleh Garrya Bianti,” ujar Djalmo.
Djalmo berharap telur yang dihasilkan dari KWT Tangguh dapat berkontribusi pada suplai pangan lokal, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. “Harapan kami, hasil telur dari sini nantinya bisa diserap untuk mendukung program pemerintah, termasuk program Bapak Presiden Prabowo terkait pemenuhan makanan bergizi.”
Kesimpulan
Acara peresmian ini menandai langkah awal transformasi KWT Tangguh menuju kemandirian ekonomi berbasis peternakan modern yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah desa telah membuktikan bahwa sinergi lintas sektor dapat menjadi kunci pemberdayaan masyarakat.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












