Tangis Ressa yang Menyentuh Saat Membela Denada, Merasa Bersalah Telah Dilahirkan: Hanya Saya yang Diboikot, Bukan Ibu

Ressa Rizky Minta Netizen Tidak Memboikot Denada

Ressa Rizky, putra dari penyanyi Denada, secara terbuka memohon kepada netizen agar tidak melakukan boikot terhadap ibunya. Ia merasa iba dan menganggap bahwa Denada tidak bersalah atas situasi yang sedang terjadi.

Di sisi lain, Ressa merasa sangat bersalah atas situasi saat ini dan mempertanyakan eksistensinya telah dilahirkan ke dunia. Kehadiran Ressa di publik murni hanya untuk mendapatkan pengakuan lisan “kamu anakku”, bukan untuk menjatuhkan atau mematikan rezeki ibunya.

Perasaan Ressa yang Mendalam

Di tengah gelombang empati publik yang berujung pada seruan boikot terhadap penyanyi Denada, sang putra, Ressa Rizky Rossano, justru muncul dengan pernyataan yang menggetarkan hati. Sambil berurai air mata, pemuda berusia 24 tahun ini memohon kepada netizen agar menghentikan kecaman terhadap ibu kandungnya.

Merasa menjadi penyebab kegaduhan ini, Ressa bahkan mengutarakan beban batin yang mendalam hingga mempertanyakan apakah kehadirannya di dunia adalah sebuah kesalahan. Bagi Ressa, pengakuan sebagai anak jauh lebih berharga daripada melihat kehancuran karier sosok yang telah melahirkannya.

Bela Denada Hingga Merasa Bersalah Telah Dilahirkan

Ressa yang tidak menggunakan media sosial belakangan ini, memang baru tahu pengakuannya membuat masyarakat berempati dan membuat seruan untuk boikot Denada. Setelah mengetahui hal tersebut, Ressa meminta agar masyarakat tidak memboikot ibunya.

“Jangan, kasihan,” kata Ressa di program Pagi pagi Ambyar TransTV, Selasa (3/2/2026). Ressa pun mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap nasib sang ibu di dunia hiburan. Sejak awal, Ressa tidak pernah menginginkan perjuangannya mencari jati diri berakhir dengan merusak sumber penghidupan ibunya.

“Ressa minta tolong, jangan sampai diboikot-boikot itu, karena Ressa enggak mau sampai seperti ini,” lanjutnya. Ressa merasa iba pada Denada, jika sampai diboikot dari televisi.

“Bagaimana pun itu ibu Ressa, di mata Ressa enggak ada salahnya,” ujar Ressa sambil menangis. Ressa lalu menyampaikan permohonan kepada netizen agar tidak memojokkan ibunya. Bahkan, Ressa menawarkan dirinya sendiri sebagai sasaran kritik atau kecaman asalkan sang ibu dibebaskan dari sanksi sosial publik.

“Ressa mohon banget, pada kakak-kakak netizen, jangan diboikot, kasihan, mending kalau enggak Ressa saja enggak apa-apa, jangan ibu,” lanjutnya. Lebih lanjut, Ressa menegaskan sejak awal tujuannya muncul hanya ingin mendapat pengakuan Denada, bukan niatnya menjatuhkan karier sang ibu.

“Di mata Ressa, ibu enggak pernah salah, cuma Ressa kecewa aja, itu aja. Simple, cuma pengakuan aja, ‘kamu anakku,’ udah, enggak lebih, cuma itu aja” ucap Ressa. Ressa pun meminta maaf kepada Denada, jika kehadirannya di dunia terasa salah dalam hidup Denada.

Kalimat tersebut menggambarkan luka psikologis seorang anak yang merasa kelahirannya justru menjadi beban atau penyebab kericuhan dalam hidup orang tuanya.

“(Ressa) kayak merasa bersalah aja, pikirannya Ressa, kenapa sampai kayak gini, apa Ressa ada salah? kurang tahu apa, waktu lahir atau apa,” imbuhnya.

Kekecewaan yang Menumpuk Selama 24 Tahun

Nama Ressa Rizky mulai mencuat ke publik sejak pemuda berusia 24 tahun tersebut mendaftarkan gugatan terhadap Denada atas dugaan penelantaran anak. Gugatan tersebut resmi didaftarkan pada 26 November 2025 di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur. Langkah hukum ini merupakan puncak dari akumulasi rasa kecewa keluarga yang telah menumpuk selama lebih dari dua dekade terhadap sikap Denada beserta adik-adiknya.

Ressa lahir tahun 2002 dan dibawa ke Banyuwangi dari Jakarta untuk dirawat oleh tante Denada, Ratih. Sejak saat itu, tidak ada itikad baik dari Denada untuk setidaknya menyapa atau sekadar bertanya kabar. “Saya ini bukan pembantunya, saya tantenya, (sekedar tanya) ‘tante apa kabar, kayak apa?’ enggak ada,” kata Ratih di Youtube Curhat Bang Denny Sumargo. “Mbok ya, setelah ada ini (tanya) gimana ke saya kan, jangan gitu, ini selama 24 tahun ini (Ressa) gede, enggak pernah,” lanjutnya.

Puncak dari kekecewaan mereka adalah ketika Ratih justru dituduh melakukan penggelapan mobil sampai didatangi dua polisi.

Pengakuan Denada, Ressa Memang Anak Kandungnya

Penantian panjang Ressa akhirnya membuahkan hasil, pada Senin (2/2/2026), selang beberapa bulan sejak kemunculannya ke publik, Denada mengunggah sebuah video yang mengonfirmasi Ressa memang benar putra kandungnya. Melalui akun @denadaindonesia, Denada menyampaikan permohonan maaf yang mendalam karena butuh waktu hingga puluhan tahun untuk akhirnya berani mengakui keberadaan Ressa secara terbuka.

“Saya juga minta maaf kepada Ressa, karena baru saat ini, setelah sekian lama, saya memberitahukan Ressa bahwa saya adalah ibu kandungnya,” ungkap Denada. Denada juga mengungkapkan penyesalannya karena Ressa tidak tumbuh besar bersamanya.

Terkait alasan di balik keputusan masa lalunya, Denada menjelaskan kondisi psikisnya saat itu sedang dalam keadaan tidak layak sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk hidup bersama. “Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak,” ungkap Denada.

Harapan Ressa Bertemu Langsung dengan Denada

Mendengar pengakuan jujur dari Denada membawa kelegaan tersendiri bagi Ressa. Namun, sebuah video saja belum cukup untuk mengobati luka lama. Ressa menegaskan sangat mendambakan pertemuan langsung dengan sang ibu demi membangun kembali ikatan keluarga yang sempat terputus selama dua dekade.

“Alhamdulillah, tapi Ressa ingin ketemu, menjalin hubungan yang baik” ujar Ressa singkat di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026). Meski keinginan untuk bersua sangat kuat, Ressa mengungkap fakta pahit jika sejak video permintaan maaf itu diunggah, belum ada komunikasi yang terjalin dengan Denada.

“Enggak ada (komunikasi),” ujar Ressa. Ressa bahkan masih terus berupaya bisa menghubungi sang ibu, dengan harapan bisa bertemu dan berbicara dari hati ke hati.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *