Bisnis  

Investasi AI Belum Untung, Valuasi Perusahaan Malah Naik

Perusahaan Tidak Langsung Dapat Keuntungan Finansial dari Investasi AI



Jakarta – Ekonom menilai bahwa perusahaan tidak serta-merta memperoleh keuntungan finansial saat berinvestasi dalam teknologi artificial intelligence (AI), sebagaimana pengembangan teknologi pada tahap awal. Namun, dampak yang langsung terlihat adalah peningkatan valuasi perusahaan.

Menurut Nailul Huda dari Celios (Center of Economic and Law Studies), nilai valuasi tersebut berasal dari sisi pengguna, potensi iklan, serta ekspektasi pemanfaatan teknologi di masa depan. Ia menjelaskan bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan investasi AI belum akan menguntungkan secara neraca keuangan, tetapi valuasi perusahaan cenderung meningkat. Menurut dia, keuntungan baru bisa dirasakan sekitar tahun kelima.

Huda memperkirakan adopsi AI akan semakin luas, tidak hanya di tingkat individu, tetapi juga di kalangan perusahaan. “Semakin banyak ke depan perusahaan yang akan menggunakan AI, terutama perusahaan keuangan. Untuk deteksi fraud dan sebagainya,” katanya.

Laporan Deloitte tentang Pengadopsian AI

Sejumlah riset global menunjukkan temuan serupa. Laporan terbaru dari firma akuntansi Deloitte berjudul The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge menyoroti adanya kesenjangan antara ekspektasi pendapatan perusahaan dan realitas hasil investasi AI di lapangan.

Survei yang melibatkan 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi (TI) di 24 negara itu menunjukkan sebanyak 74% organisasi menargetkan inisiatif AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan. Namun, hanya 20% perusahaan yang melaporkan telah benar-benar melihat realisasi pertumbuhan tersebut.

Deloitte menekankan bahwa keberhasilan adopsi AI tidak semata diukur dari keuntungan finansial. Aspek efisiensi, diferensiasi strategis, dan keunggulan kompetitif jangka panjang juga menjadi tolok ukur penting. Sebanyak 25% pemimpin bisnis menyatakan AI telah memberikan dampak transformatif pada organisasi mereka, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 12%.

Akses Tenaga Kerja Terhadap Alat AI

Dari sisi operasional, akses tenaga kerja terhadap perangkat AI juga terus meluas. Kurang dari 60% pekerja kini memiliki akses ke alat AI yang disetujui tim TI, naik dari 40% pada tahun sebelumnya. Meski demikian, tingkat pemanfaatannya dinilai belum optimal.

Di antara pekerja yang telah memiliki akses, kurang dari 60% menggunakannya dalam alur kerja harian, sehingga potensi produktivitas dan inovasi dinilai belum tergali sepenuhnya. Laporan tersebut juga mencatat potensi otomatisasi pekerjaan yang semakin besar. Sebanyak 36% perusahaan memproyeksikan setidaknya 10% pekerjaan akan terotomatisasi penuh dalam satu tahun ke depan. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 82% dalam tiga tahun mendatang.

Namun, 84% responden mengaku belum mendesain ulang peran kerja karyawan berdasarkan kapabilitas AI, yang menunjukkan lambatnya perubahan manajemen organisasi.

Fokus pada Sumber Daya Manusia

Kepala AI AS di Deloitte Jim Rowan mengatakan organisasi yang sukses memanfaatkan AI tidak hanya berinvestasi pada algoritma, tetapi juga pada sumber daya manusia. “Fokus ganda pada pemajuan kapabilitas talenta dan alat AI memberdayakan tim untuk merangkul model bisnis yang dirancang ulang dan menetapkan dasar bagi keunggulan kompetitif,” kata Rowan dalam laporannya.

Selain tantangan internal, isu sovereign AI atau kedaulatan AI juga menjadi perhatian korporasi. Sebanyak 83% perusahaan menyatakan kendali atas perangkat lunak dan data sesuai hukum lokal menjadi hal penting, sementara 66% mengkhawatirkan ketergantungan pada vendor asing.

Survei PwC tentang Kepuasan CEO

Temuan Deloitte tersebut sejalan dengan survei PwC yang menunjukkan turunnya kepercayaan CEO terhadap dampak AI terhadap kinerja bisnis. Dalam Survei CEO Global ke-29 PwC yang melibatkan 4.454 CEO di 95 negara, hanya 30% CEO yang yakin terhadap pertumbuhan pendapatan dalam 12 bulan ke depan. Angka ini turun dari 38% pada 2025 dan 56% pada 2022.

Salah satu kekhawatiran utama adalah perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk AI. Jika sebelumnya AI dipandang sebagai solusi untuk meningkatkan kinerja bisnis, kini hanya 12% CEO yang merasa AI benar-benar memberikan keuntungan finansial. Sebanyak 56% CEO bahkan mengaku belum melihat manfaat finansial signifikan dari penerapan AI.

Tahun 2026 sebagai Tahun Penting bagi AI

Ketua Global PwC Mohamed Kande menyebut hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata, sementara sebagian besar masih berada pada tahap uji coba. “Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi AI,” ujar Kande.

Meskipun demikian, perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius dalam produk dan layanan tercatat mampu meraih keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum menerapkannya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *