Bisnis  

Strategi Emiten Otomotif AUTO dan SMSM Kuatkan Laba 2026



JAKARTA — Dua perusahaan emiten komponen otomotif, PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) dan PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM), memiliki strategi berbeda dalam menghadapi risiko makroekonomi yang dapat memengaruhi kinerja bisnis pada tahun 2026. Kedua perusahaan ini fokus pada mitigasi risiko dengan menjaga stabilitas margin laba melalui diversifikasi bisnis dan optimalisasi pendapatan ekspor.

Pasar mobil domestik Indonesia mengalami penurunan penjualan wholesales sebesar 7,1% menjadi 803.691 unit pada tahun 2025. Hal ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di level Rp16.800 per dolar AS. Kondisi ini menambah tantangan bagi industri komponen otomotif, terutama karena ketergantungan pada bahan baku impor.

Strategi Mitigasi AUTO

PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) memilih untuk mempercepat diversifikasi ke sektor non-otomotif guna mengurangi ketergantungan pada pasar kendaraan domestik. Direktur Keuangan Astra Otoparts, Sophie Handli, menyatakan bahwa tahun 2026 tetap menjadi periode yang penuh tantangan bagi perseroan.

Strategi utama AUTO mencakup:

  • Menambah varian produk baru
  • Memperluas jaringan distribusi dengan menambah jumlah outlet
  • Melakukan inisiatif ekspansi untuk memperluas jangkauan pasar ekspor komponennya
  • Mempercepat diversifikasi bisnis ke segmen non-otomotif seperti medical devices, komponen alat berat dan pertambangan, serta sektor industri lainnya

Selain itu, AUTO juga fokus pada peningkatan produktivitas melalui program pengurangan biaya dan otomasi proses produksi. Digitalisasi operasional ditingkatkan untuk memastikan struktur biaya tetap kompetitif di tengah fluktuasi harga bahan baku dan permintaan pasar.

Dengan kombinasi strategi pertumbuhan dan efisiensi, AUTO menargetkan pertumbuhan kinerja yang lebih resilien dan berkelanjutan sepanjang 2026.

Strategi Mitigasi SMSM

Sementara itu, SMSM optimistis menjaga stabilitas margin laba di tengah pelemahan nilai tukar rupiah berkat dominasi pendapatan ekspor berbasis dolar, strategi natural hedging, dan penggunaan forward contract. Vice President Director SMSM, Ang Andri Pribadi, menyampaikan bahwa ketergantungan industri terhadap bahan baku impor adalah tantangan, namun depresiasi rupiah memberikan keuntungan kompetitif karena sebagian besar pendapatan perseroan dalam denominasi dolar AS.

Strategi yang digunakan SMSM antara lain:

  • Natural hedging, yang dimungkinkan karena nilai penjualan ekspor jauh lebih besar dari pembelian bahan baku impor
  • Forward contract sesuai kebutuhan operasional untuk memenuhi kebutuhan rupiah dan menjaga stabilitas margin
  • Pengelolaan pembelian bahan baku impor dengan prinsip efisiensi
  • Pemenuhan kebutuhan komponen secara mandiri atau menambah porsi pembelian dari dalam negeri

SMSM membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada level single digit untuk tahun buku 2026, dengan tetap menjaga profitabilitas dan keberlanjutan kinerja usaha di tengah dinamika geopolitik.

Kesimpulan

Kedua perusahaan, AUTO dan SMSM, menunjukkan kebijakan strategis yang berbeda dalam menghadapi tantangan makroekonomi. Meskipun demikian, keduanya berkomitmen untuk menjaga stabilitas kinerja dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan strategi yang tepat, kedua perusahaan berharap dapat bertahan dan berkembang di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *